Pengalaman Mengajar Les Privat Bahasa Jepang untuk Pertama Kalinya

Sebenarnya ini pengalaman sudah dua tahun yang lalu, tepatnya pengalamanku dari Desember 2018 sampai Maret 2019. Cuma belum sempat tertulis di blog ini, aku tulis belakangan gak papa kan ya, hehe. Soalnya ini juga termasuk hal yang berkesan dalam perjalananku mempelajari bahasa Jepang. Baiklah langsung saja seperti inilah ceritanya, kore ga Riizhu no monogatari.

Pengalaman Mengajar Les Bahasa Jepang

Awalnya ada seseorang yang menghubungiku via Line menanyakan apakah aku berasal dari Banjarbaru, aku balas iya. Kemudian orang itu juga memperkenalkan dirinya, dia mengatakan berada di satu provinsi yang sama. Namanya mba Anna, asal Sekumpul, Martapura, kota yang bertetanggaan dekat dengan Banjarbaru. Sekarang dia lagi di Jepang, tepatnya di Hokkaidou.

Waaah, "sugoi" pikirku. Jarang-jarang ada orang Kalsel yang bisa pergi ke Jepang. Pasti orang ini bahasa Jepangnya jago nih. Jadi, sesekali aku coba chat menggunakan bahasa Jepang. Tapi ternyata beliau tidak begitu bisa berbahasa Jepang, katanya di Jepang lebih banyak pakai bahasa Inggris aja. Owh, naruhodo.

Setelah itu mba Anna menyampaikan keinginannya, yakni ingin aku mengajari anaknya bahasa Jepang dasar sebagai bekal buat anaknya yang berencana akan pindah sekolah ke Jepang. Katanya sangat sulit menemukan tempat atau guru les bahasa Jepang di daerah Martapura dan sekitarnya (yups benar banget sih, jarang ada peminatnya sehingga hampir gak ditemukan lembaga atau tempat les bahasa Jepang di daerah sini). Oleh karena itu katanya dia mencoba mencari-cari guru les bahasa Jepang di internet, lalu menemukanlah web bahasajepangbersama.com yang ternyata adminnya tinggal di Banjarbaru yang tidak begitu jauh dari Sekumpul, Martapura.

Aku tak langsung menerimanya sih, aku nyadar ilmu mengajarku masih sangat kurang ditambah lagi aku termasuk orang yang sangat pendiam aslinya, jadi aku masih fuan (khawatir) kalau mengajar secara langsung gitu. Namun, di satu sisi aku juga berpikir ini adalah chansu (kesempatan) untuk membuat diriku lebih berkembang lagi. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya perseteruan dua kubu pikiranku yang saling berargumen di dalam otakku itu dimenangkan oleh kubu pikiranku yang ingin mengambil kesempatan yang langka ini. Salah satu andilnya karena dikuatkan oleh bujukannya mba Anna juga, dia percaya aku bisa dan tidak menuntut banyak hal juga. Akhirnya aku pun menjawab "hai, tameshite mimasu", "baiklah, aku akan mencobanya".

Setelah memutuskan menerimanya, aku cuma punya sekitar seminggu untuk persiapan. Bagiku itu waktu yang sedikit, aku termasuk orang yang selalu melakukan persiapan sampai detil sebelum memulai sesuatu. Yang aku lakukan semasa persiapan adalah banyak-banyak membaca cara mengajar les privat bagaimana, selain membaca aku juga mencari video-videonya biar lebih jelas lagi. Tiap hari aku selalu searching keyword yang berhubungan dengan mengajar les privat terutama cara mengajar bahasa Jepang. Aku juga berkomunikasi sama mba Anna untuk menyesuaikan materi apa yang dibutuhkan dan berapa lama waktuku untuk mengajar, hari apa aja aku mengajarnya.

*****

Singkat cerita tibalah hari H aku mengajar. Aku mengajarnya dua kali seminggu, hari Jumat dan hari Minggu mengajar mulai pukul setengah tiga sampai jam lima sore, kurang lebih dua setengah jam. Dari hasil diskusi dengan ibunya juga aku memutuskan menggunakan buku 30 Hari Belajar Bahasa Jepang dengan Mudah dan Lancar karya Rostineu. Aku cuma memiliki 5 buku fisik belajar bahasa Jepang aja, dan yang paling cocok menurutku itu, jadi aku pilihnya itu. Aku juga sudah menyiapkan daftar  hal-hal dasar yang akan kuajarkan selama 3 bulan ke depan.

Buku Mengajar Les Privat Bahasa Jepang

Hari pertama aku berangkat sekitar jam 2-an, diantar kakak ipar (waktu ini, aku masih belum berani bawa motor ke daerah perkotaan, jalanannya masih sebatas desa sekitar haha, plus belum punya sim juga). Sesampainya di Sekumpul, di titik alamat yang dituju, aku berhenti dulu. Menelpon Nabila dulu buat memastikan rumahnya yang mana. Sekitar 5-10 menitan nyasar, gak lama habis itu ketemulah rumah yang dituju. Aku langsung disambut oleh Nabila dan Neneknya yang sudah nunggu di depan rumah.

Hari pertama aku cuma mengajarkan jenis-jenis huruf Jepang dan membacakan bab pertama buku pelajarannya. Hari pertama masih canggung ngajarnya, masih kaku lah. Padahal sudah banyak baca-baca dan banyak belajar cara mengajar, tapi pas di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Tapi hasilnya tidak seburuk yang selama ini kubayangkan juga, setidaknya kini aku sudah semakin mendapat gambaran hal apa saja yang akan kulakukan selama 3 bulan ke depan. Aku pun harus merasa lebih percaya diri lagi, aku butuh pengalaman, aku butuh jam terbang lebih banyak. Baiklah, berikutnya aku harus lebih baik lagi. Di sini aku juga telah mengetahui ternyata Nabila juga terlihat antusias dan sangat menikmati proses belajar bahasa Jepang. "Mou mayou na, tada mae e susume!!" kataku mencoba menguatkan diri sendiri. Pokoknya gak boleh ragu lagi, fokus aja untuk terus melangkah ke depan.

*****

Tibalah hari kedua mengajar bahasa Jepang, hari kedua dan seterusnya aku menggunakan jasa ojek online untuk pulang perginya, kecuali hari ketiga aku diantar pulang sama Ayah Nabila, ngobrol-ngobrol banyak tuh kita sambil perjalanan pulang, kebanyakan yang diobrolin tentang bahasa Jepang sih. Apa yang sulit dari bahasa Jepang, apa aja perbedaannya dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, tak ketinggalan menanyakan bagaimana aku belajarnya dan sudah berapa lama aku belajarnya. Obrolan cukup mengalir soalnya gak kerasa ternyata udah nyampai rumahku aja :D.

Kalau naik ojol setidaknya aku sudah harus memesan 40 menit sebelum jadwal belajar lho, soalnya waktu itu masih sangat langka menemukan driver ojek online, tiap aku pesan itu dapatnya yang jauh banget dari lokasiku. Tak jarang ada yang mencancel juga. Menunggu bang ojolnya 15 menitan, dan 20 menitan waktu di jalan. Untuk pulangnya lebih cepat dapatnya karena di sana tergolong kota mungkin ya. Tapi, tetap aja dulu gak gitu banyak driver ojek online, alhasil sering dapat ojol yang itu itu lagi. Yang paling sering ketemu itu ada yang sampai 6x, wkwk rajin amat ya gue ngitungin yang beginian, mana masih inget pula XD, kalau gak salah namanya Aulia Rahman, driver yang waktu pertama kali gue pesan itu ngira gue perempuan :D.

Hari pertemuan kedua dan seterusnya cukup berjalan lancar. Tiap sebelum mengajar, tak lupa aku selalu membaca ulang dan menyiapkan hal yang akan aku ajarkan. Aku sudah cukup tahu karakter belajar Nabila dan apa aja yang akan paling dia butuhkan untuk ke Jepang. Selama 3 bulan fokusku adalah mengajarkan hiragana dan katakana, setiap sebelum belajar pasti review hafalan huruf kana dulu kurang lebih 15 menit. Selain kana, aku juga sering mengajarkan tentang salam dan ungkapan sehari-hari. Kedua hal itu pasti akan sangat sering dipakai saat dia sudah di Jepang. Kemudian selesai belajar aku persilahkan dia untuk bertanya, dia lebih banyak bertanya tentang keadaan di Jepang dan budaya Jepang daripada bahasa Jepang, beberapa ada tidak bisa kujawab. Maklum aku pun belum pernah ke Jepang jadi tidak tahu juga, pengetahuanku tentang Jepang hanya sebatas membaca di internet, buku dan dengar dari teman-teman yang berbagi pengalamannya di Jepang. Kebetulan buku yang kuajarkan terdapat sesi bahasan tentang budaya Jepang, cukup terbantu juga.


*****

Dua bulan berlalu, Nabila sudah hafal hiragana, untuk katakana dia masih ada beberapa yang lupa atau tertukar cara bacanya. Menurutku perkembangannya cukup wajar untuk sekelas anak kelas 1 SMP, tidak pesat tapi tidak lambat juga. Untuk ungkapan sehari-hari alhamdulillah dia cukup hafal. Untuk perubahan kata beberapa udah hafal tapi terlihat masih belum benar-benar melekat. Satu bulan sisanya lebih banyak latihan dan main tebak-tebakan kata, huruf dan arti buat melihat sejauh mana hafalannya, selama 3 bulan itu kita juga berhasil menamatkan buku yang menjadi referensi utama belajar kita. Nabila banyak aku suruh mencatat hal-hal penting yang dibahas di buku itu, biar nanti bisa dia buka dan pelajari lagi saat di Jepang. 

Oh iya, Nabila juga menunjukan buku bahasa Jepang yang dia beli di toko buku, aku gak ingat judulnya apa tapi berisi frasa-frasa yang berguna dan yang sering digunakna, tapi tidak ada pembahasan tentang tata bahasanya katanya. Malamnya lewat chat, ibunya meminta saran buku pelajaran bahasa Jepang yang bagus dan cocok buat Nabila apa, tadinya mau cari buku yang jadi referensi belajar kita tapi karena tidak menemukannya lagi (andai bukuku udah terbit pasti kupromoin XD),jadi aku merekomendasikan dan pesankan secara online buku Bahasa Jepang itu Gampang karya Hanina Zakiyyah, menurutku bukunya bagus dan penjelasannya mudah dimengerti dan uptodate.

Satu minggu sebelumnya Mba Anna sudah pulang dari Jepang, mungkin sekitar tiga atau empat pertemuan terakhir (aku kurang ingat). Akhirnya ketemu dengan Mba Anna juga. Kita ngobrol-ngobrol dong, tentang awal aku belajar bahasa Jepang, bikin blog ini, sampai rencana apa saja yang akan aku lakukan ke depannya, adakah rencana untuk ke Jepang dan sebagainya. Berhubung aku orang yang gak pandai ngobrol, jawabanku agak singkat-singkat, di sini aku juga ngerasa kurang lancar ngomongnya. Mau ngeluarin kata-kata kayak sulit gitu. Apa mungkin karena gugup kali ya XD, bedalah waktu ngobrol dengan Ayahnya kayaknya lancar-lancar aja.

Berakhir sudah les bahasa Jepangnya, minggu depannya Nabila bersama Ayah, Ibu dan adiknya berangkat ke Jepang dan tinggal di Hokkaidou. Semoga sukses di Jepang dan cepat jago bahasa Jepangnya, ganbatte kudasai.

*****

Cukup sekian Riizhu no monogatari kali ini, menurutku pengalaman ini salah satu bagian yang berharga dalam perjalananku mempelajari bahasa Jepang. Mulai sekarang, aku harus berlatih lebih keras lagi, harus lebih berani mengambil tantangan lagi biar cepat berkembang. Aku juga harus melatih kekurangan terbesarku entah bagaimana pun caranya. Btw, aku itu orangnya sangat gak bisa ngomong di depan umum atau dengan orang baru, pokoknya otakku terasa ngeblank kalau lagi ngomong di tempat umum, padahal dipikiran itu udah nyusun kalimat-kalimat yang benar tapi pas mau diucapan kok berasa berat ya, pokoknya beda lah rasanya pas ngomong langsung dengan chattingan.


Terima kasih buat Mba Anna dan keluarganya, terima kasih buat Nabila yang sudah menjadi murid pertamaku, terima kasih buat Zayyidan yang sering usilin kakaknya saat lagi belajar :D, terima kasih juga buat Neneknya Nabila yang selalu suguhin kue-kue enak saat belajar. Pokoknya terima kasih kepada semuanya atas pengalamannya🙏.

Flash Disk Obihiro University

Uang Jepang Berbagai Pecahan

Terima kasih juga buat omiyage-nya yang diberikan oleh Mba Anna, ada uang Jepang berbagai pecahan dari 5 yen sampai 1.000 yen. Ada juga flash disk yang bertuliskan Obihiro University. Untuk oleh-oleh makanannya sudah habis aku makan dong😂, ada coklat dan semacam kue mochi yang isinya stroberi gitu.
3 komentar

Kayak aku pas pertama kali ngajar (bukan bahasa jepang)

Awalnya masih ragu soalnya belum pernah ngajar sebelumnya, tapi ada salah satu peserta yang pm aku, malam setelah pelajaran hari pertama.

Katanya ngajarku asik kok, pd aja

Disitu mulai kerasa ngalir kelasnya wkwk

Mantap riizhu sensei, selalu menginspirasi 😁

Lanjut baca pengalaman jlpt, kemarin gak sempet baca karena tulisan nya panjang banget wkwk 🙏

aku udah 5 tahun bergelu sebagai guru bahasa jepang di salah satu perusahaan sampai sekarang.
malah semakin semangat..karena bertemu dengan siswa itu unik unik

@Okapi Maklum, pengalaman pertama jadi masih merasa fuan :D

Copyright © 2014 - 2020 Bahasa Jepang Bersama - All Right Reserved - Protected by Copyscape
Powered By Blogger | Kebijakan Privasi | Contact | Advertise | Media Partner